Posted by: alhidayahketawang | March 10, 2012

Gemar Membaca

Takut  rasanya ketika melihat anak-anak kita lebih sering menghabiskan waktu di depan komputer untuk main game daripada browsing artikel-artikel di internet dan liat sinetron.
Biasanya ketika seseorang membaca tujuannya adalah memperoleh informasi, hiburan, referensi, atau bisa juga karena kepentingan lain. Pertama kali saya mulai membaca dengan serius adalah ketika seorang guru menyarankan untuk membaca buku sebanyak mungkin ketika liburan puasa satu bulan penuh. Ketika itu saya melahap 5 novel sekaligus yang saya pinjam dari perpustakaan sekolah. Beberapa guru juga pernah membuat kompetisi yang hanya terbatas untuk tingkat sekolah saja untuk membuat sinopsis buku dan mencritakannya kembali. Tetapi dengan kompetisi kecil itu, minat baca saya dan teman-teman semakin bertambah besar. Hasilnya saya jadi semakin cinta membaca dan berhasil memperoleh beberapa piagam penghargaan saat mengikuti kompetisi-kompetisi menulis tingkat kabupaten saat SMP. Teman-teman saya pun mendapatkan prestasi serupa. Namun sepertinya kompetisi kecil ini tidak ada lagi. Barangkali dengan kurikulum baru bagi siswa SD yang saya anggap lebih berat dari kuikulum-kurikulum sebelumnya, mereka lebih banyak disibukkan dengan pelajaran-pelajaran yang begitu padat.
Tetapi saya berharap setiap guru-guru sekolah dasar di negeri ini mendorong anak-anak SD untuk mau membaca. Dengan arahan langsung ataupun dengan kompetisi-kompetisi kecil. Apapun itu, budaya membaca harus dibiasakan sejak dini. Ketika membaca sudah menjadi kebiasaan, maka tulisan sepanjang apapun akan terasa enak dibaca asalkan kita tertarik dengan topik tulisan tersebut.
Selain menambah pengetahuan, membaca juga menambah rasa kebahasaan seseorang. Orang yang biasa membaca lebih tahu apa yang harus ia katakan dari pada orang yang tidak biasa membaca. Orang yang biasa membaca akan mudah mencerna kalimat-kalimat yang ia peroleh dan mengutarakannya kembali. Jika kita membiasakan membaca sejak dini, maka manfaat-manfaat tersebut akan lebih besar terasa dalam diri kita.

Membaca itu seperti menanam pohon jati. Menanam sekarang, tapi baru akan menebang kayunya 15, 20, atau 30 tahun mendatang. Mungkin tidak semua yang pernah kita baca akan kita ingat kata demi kata. Tetapi setidaknya dengan membaca kita dapat meningkatkan kualitas diri kita


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: